Cari Blog Ini

Selasa, 15 November 2011

Di Australia Nyaris Tak Ada Penganggur

KOMPAS.com — Perdana Menteri Australia Julia Gillard mengaku bangga dengan data teranyar soal figur kesempatan kerja di negerinya. Menurut data itu, sebagaimana Xinhua dan ABC menulis pada Kamis (10/11/2011), angka pengangguran di Australia berada di kisaran 5,2 persen per akhir Oktober 2011. Jumlah penganggur berada di angka 10.100 orang. "Ini menunjukkan ketahanan ekonomi Australia," kata Gillard. Angka pengangguran di AS besarnya 9,0 persen. Di Inggris, angka pengangguran tetap 8,1 persen sejak 17 tahun silam. Sementara itu, meski penguasaan pasar Australia turun 3 persen lantaran kekhawatiran krisis ekonomi yang menimpa negara-negara di zona euro, Gillard mengatakan, ancaman ketidakmenentuan ekonomi tetaplah ada. Sementara itu, Menteri Urusan Pekerjaan Chris Evans mengatakan, pada bulan lalu, Australia termasuk negara dengan data pengangguran terendah di dunia. Sebagai pembanding, angka pengangguran di AS besarnya 9,0 persen. Di Inggris, angka pengangguran tetap 8,1 persen sejak 17 tahun silam. Sementara, di negara-negara zona euro, pengangguran berada di posisi 10,2 persen. Lalu, pada November ini, Bank Sentra Australia sudah memangkas suku bunganya 0,25 persen menjadi 4,5 persen.

Kamis, 23 Juni 2011

Catatab Pinggir Goenawan Muhammad

”You got to make it out of Badness…. And you know why? Because there isn’t anything else to make it out of”

—Willie Stark, dalam All the King’s Men.

Sebuah pilkada, di sebuah musim yang gerah pada 32° C. Ekonomi muram dan timpang, korupsi setengah bersembunyi, dan kemarahan si miskin setengah ditelan. Ini Louisiana tahun 1930-an: hari-hari depresi, zaman hal-hal yang radikal berkecamuk, ketika Willie Stark datang, berteriak, dan menang—seorang dengan niat baik yang bergelora dan akal yang brutal yang menjamah apa saja. Orang ini akhirnya mati ditembak seorang yang lurus hati, tapi kematian itu tak menyebabkan apa yang kotor dalam proses politik tertebus.

Novel Robert Penn Warren, All the King’s Men, telah membuat cerita Willie jadi contoh klasik tentang bagaimana politik, juga di sebuah demokrasi di Amerika Serikat, datang dari harapan tapi bisa tak memungkinkan tumbuhnya harapan.

Willie dipilih dengan dukungan yang antusias. Ia dikenal sebagai seorang yang memprotes, ketika sebuah gedung sekolah roboh. Ia orang berani yang menunjukkan bahwa pemerintah daerah membuat bangunan itu dengan menunjuk seorang kontraktor yang curang. Semula protesnya tak didengar. Tapi beberapa tahun kemudian, tatkala sebuah tangga kebakaran roboh dan beberapa anak luka parah, orang ingat benarnya kata-kata Willie. Ia langsung jadi tokoh yang diharapkan, dan sejumlah operator politik daerah menyiapkannya untuk jadi calon gubernur.

Yang tak disangka-sangka para operator itu ialah bahwa Willie ternyata bisa tak tergantung kepada mereka. Dengan keyakinan bahwa ia adalah si jujur yang berani bicara dan bertindak, dengan kemampuannya memposisikan diri senasib sepenanggungan dengan para hicks yang miskin dan dibohongi, ia bisa bicara langsung dengan orang ramai itu, memukau langsung dan didukung langsung oleh mereka.

Dari politik populis ini Willie kian yakin akan keluhuran niat baiknya bagi orang banyak—sebuah keyakinan yang begitu terang benderang hingga menyebabkan pandangnya silau. ”Cahaya terang yang menerpa matanya membutakannya,” kata Jack Burden, sang pembawa cerita dalam novel ini. Kekuasaan dan keyakinan yang membuatnya jadi perkasa akhirnya membuat Willie kebal, juga terhadap rasa sakit orang lain. Willie menyuruh Jack membongkar masa lalu Hakim Irwin yang menentang rencana politiknya. Ketika Jack berhasil menemukan sesuatu yang kotor di masa lalu itu, hakim tua itu bunuh diri.

Baru kemudian Jack tahu, Hakim Irwin adalah ayah kandungnya sendiri. Tapi anak muda ini tak berhenti mengabdi pada Willie—bahkan ketika Willie mengambil Anna jadi gundiknya. Anna gadis yang bagi Jack sejak masa sekolah telah membuat dirinya seperti diciptakan kembali dari lempung.

Sepasang manusia telah membuat novel ini memukau secara muram. Keteguhan Willie untuk tak tersentuh oleh rasa sakit orang lain bertaut dengan pandangan Jack tentang tak pentingnya subyektivitas dalam laku dan pilihan moral. Anak muda yang pernah ingin menulis sejarah hidup seorang tokoh ini pada perkembangannya percaya bukan kepada manusia, melainkan kepada apa yang disebutnya the Great Twitch. ”Kedut agung” ini, dalam pandangannya, adalah yang menentukan hidup. ”Semua kata yang kita ucapkan tak berarti apa-apa dan hanya ada degup darah dan kedutan saraf, seperti kaki seekor katak yang mati di tempat eksperimen ketika setrum listrik itu menjalarinya.”

All the King’s Men—jika novel yang ditulis seorang penyair ini agak disederhanakan—adalah catatan yang memaparkan nyaris hilangnya harapan. Kedua tokoh utamanya berbicara dan berlaku dengan keyakinan bahwa tak ada kapasitas manusia buat memihak Kebaikan, apa pun maknanya. Jack, yang percaya akan kuasa ”the Great Twitch”, menafikan tanggung jawab seseorang dalam perbuatan baik dan buruk.

Ini tentu saja semacam nihilisme, tapi juga determinisme: nilai-nilai, seperti halnya bahasa, dianggap tak berarti apa-apa, sebab manusia tak merdeka, sebab ia ditentukan oleh sesuatu yang lebih besar ketimbang subyektivitasnya. Willie juga demikian: manusia ada dan tak bisa bebas dari Keburukan. Badness, dan tak ada yang lain dari itu, mendasari semuanya. Dunia—juga kemuliaannya—dibangun oleh manusia-manusia yang culas dan korup.

Dengan pandangan itulah politik mereka jalankan di Louisiana. Bisa dikatakan All the King’s Men adalah sebuah gugatan kepada politik, juga politik demokratis, yang ternyata tak membuat kehidupan bersama bebas dari nihilisme. Baru di akhir novel Willie Stark dalam keadaan luka tertembak hampir mati berbisik kepada Jack bahwa keadaan sebenarnya bisa diubah; dengan kata lain, saat itu ia ingin berbisik: manusia sebenarnya bisa memilih.

Jack sendiri akhirnya tahu: ada yang lebih tahan menggerakkan hidup ketimbang the Great Twitch yang seperti mesin sejarah itu. Bukan rumusan baik dan buruk, bukan ajaran bukan agama, melainkan sesuatu yang lebih awal ketimbang itu semua: ketika manusia ternyata bisa menangis dan bertindak mengulurkan tangan ketika yang tak berdaya, yang kelaparan, yang dipermalukan dan dihinakan terkapar di halaman.

Politik memang sering menganggap bela rasa itu hanya instrumen. Tapi ada selalu kebutuhan praktis sebuah kota, sebuah polis, untuk terus-menerus melawan, mencegah, agar orang seperti Willie Stark, yang hanya tertarik kepada dirinya sendiri dan hanya percaya akan Keburukan, tak terus-menerus menguasai hidup dan percakapan. Di situ politik berarti sebuah kerja, ketika engkau mengajakku memulihkan kembali harapan: meskipun Kebaikan tak selamanya jelas, Keburukan bukanlah dasar segalanya.

~Majalah Tempo Edisi. 17/XXXIIIIII/18 - 24 Juni 2007~

Proyeksi Sistem Pemilu 2014

KPU Kota Makassar mengadakan diskusi terbatas atau talk show dengan tema “Proyeksi Sistem Pemilu 2014 “ yang diselenggarakan di Graha Pena Fajar pada hari senin, tanggal 30 mei 2011 dengan pemateri Dr.Jayadi Nas, M.Si, Dr. Hasrullah, MA., Pahir Halim yang di pandu oleh Muh yusuf (redaktur fajar). Peserta diskusi ini dihadiri Partai Politik, Akademisi, Ketua KPU Kab/Kota Se-Sulsel dan masyarakat umum. Tujuan kegiatan untuk mencari format system pemilu tahun 2014 dan mendapat gambaran tentang system pemilu 2009 dan proyeksi system pemilu 2014 dari berbagai sumber.

Pelaksanaan diskusi ini dilatarbelakangi oleh tekad dalam perbaikan proses politik, khususnya dalam aspek pemilihan umum. Dari aspek sistem pemilu, saat ini masih masih dalam proses pencarian bentuk yang ideal. Oleh karen aitu, dalam penyusunan rancangan UU Pemilu 2014, DPR harus mendengarkan suara-suara dari rakyat yang ada di daerah, demikian pengantar Misnah.

Menurut Jayadi Nas, dua hal mendasar dalam perdebatan sistem pemilu, yaitu distrik dan proporsional, walaupun ada juga yang menganut sistem yang moderat dengan menggabungkan antara keduanya. Maka dari itu perlu konsistensi sistem pemilu serta mempertegas diantara distrik, proporsional atau campuran antara keduanya (Mix Member Proportional). Walaupun, dalam diskusi tersebut juga mengemuka adanya ide penerapan sistem yang berbasis lokalitas sebagai bangsa yang majemuk, sehingga susah untuk menerapkan salah satu sistem secara utuh.